Setiap manusia harus memberikan persembahan kepada Allah. Persembahan itu dapat berupa tingkah laku yang baik yang disenangi Allah. Ketika kita belajar dengan baik dan hasilnya pun baik, hal itu bisa dilihat sebagai bentuk persembahan kepada Allah. Hasil pekerjaan yang baik tidak akan mengecewakan Allah yang telah menganugerahkan akal budi dan kepandaian kepada kita.
Suatu ketika, Habil dan qabil memberikan persembahan kepada Allah. Karena malas, hasil kerja Qabil tidak sempurna. ia memberikan persembahan berupa hasil panen yang sedikit.
"Allah yang memiliki seisi bumi ini, biarlah aku memberikan persembahan yang sedikit. itu sudah cukup untuk Allah,"demikian pikir qabil.
Sebaliknya, Habil yang rajin, memberikan persembahan istimewa kepada Allah. Ia mempersembahkan domba yang sehat dan gemuk."terimalah persembahanku ya Allah,"kata Habil.
Karena persembahan Habil merupakan persembahan terbaik dari hasil kerja terbaiknya, Allah berkenan menerimanya. Sebaliknya, persembahan Qabil tidak dipilih Allah. Qabil tidak bersungguh-sungguh dalam memberikan persembahan dan hasilnya pun kurang baik.
"Kamu tidak sungguh-sungguh. Lain kali, berikanlah persembahan terbaik kepada Allah,"kata Habil. Mendengar nasihat adiknya, Qabil bukannya senang, tetapi malah marah.
"Jangan mengguruiku habil,"jawab Qabil. Bahkan karena sangat emosi, Qabil mengancam Habil dan akan membunuhnya.
"Aku tidak akan membalas perlakuanku kepadaku. Aku takut kepada Allah,"ucap Habil.
Mendengar ucapan Habil,Qabil makin marah. Ia memukul Habil hingga sang adik meninggal. Melihat itu, Qabil sangat menyesal telah khilaf membunuh adiknya."Apa yang harus aku lakukan," Qabil menyesali perbuatannya. Ia terduduk disamping jasad adiknya. Ia menangis dan sangat menyesal.
Di hadapan Qabil, Allah memperlihatkan dua burung gagak yang berkelahi. Salah satu burung itu pun mati. Burung yang menang menggali tanah dengan paruhnya.
"Burung itu menguburkan burung yang mati. Mengapa aku tidak menguburkan Adikku?" ucap Qabil. Setelah selesai menguburkan Habil, ia tidak pulang. Qabil merasa bersalah dan tidak mungkin kuat hati menghadapi kedua orangtuanya. Ia mengembara jauh dari rumah.Perasaan berdosa masih menyelimuti.
Pesan Bijak
Manusia sebaiknya selalu belajar mengendalikan amarah dan emosi. Orang lain dan diri sendiri bisa celaka ketika kita tidak bisa mengendalikan diri. Rasa penyesalan selalu datang terlambat.
Saturday, 30 January 2016
MENGUBUR JASAD SANG ADIK
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment